Selasa, 21 Mei 2013

Summer Love (Harry Styles Love Story)

Hai semua!!! :)) Udah lama enggak aktif ya. Maaf banyak ulangan sama kerja kelompok but I'm back now. Ada yang kangen? wkwkwkwk :3 So, setelah lama hibernasi dari dunia ke-blog-an aku kembali dengan sebuah hadiah untuk kalian. Untuk para penggemar Harry Styles. Sebelumnya maaf kalo agak mprekenel Bahasa Inggrisnya, lagi belajar sih. Terus ini masih campuran antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. So, Check this out yo!
Harry Styles Love Story
          Suara pramugrari mengingatkan bahwa sebentar lagi pesawat akan landing membuat jantungku berdebar. Ini kali pertama aku datang ke Inggris, sendirian pula. Modal nekat, uang seadanya, dan tiket PP pesawat dari Tante Lestari menambah rasa inginku. Aku memegang erat seat belt-ku, masih belum percaya aku akan landing di Bandara Heathrow.
          Aku memanggul tas backpack-ku. Tanganku sibuk memijat-mijat leherku yang mulai sakit karena penerbangan belasan jam itu. “Ms. Kusnodiharjo, it’s your passport. Welcome to England and enjoy”ucap seorang ibu pegawai Imigrasi dengan ramah. “Thank you, miss”ucapku. Aku berjalan mencari-cari keberadaan yellow cab. Di bandara sebesar ini, aku merasa tambah kecil. Apalagi tinggiku yang cuma 165 cm ini bukan standar para bule disini yang setinggi kulkas 3 pintu.
          “Excuse me, miss”ucap seseorang yang menjawil bahuku dari belakang. Spontan aku menoleh.
          “What can I help you?”tanya seorang laki-laki setengah baya berseragam kayak satpam.
          Aku menanyakan pangkalan taxi ke bapak itu. Dan beliau menjawab dengan ramah pertanyaanku. “Thank  you so much sir”ucapku akhirnya. “No problem, Be carefull and enjoy England”ucap Bapak itu.
          Aku sampai disebuah dorm untuk para backpacker. Tempatnya di pusat London tapi masuk sebuah jalan. Tempat ini aku temuin lewat browsing di internet 2 bulan lalu. Dengan harga 11 poundsterling/malam. Tempat ini punya 3 lantai.
          Aku masuk di kamar 08 di lantai 1. Satu kamar disini ada 4 orang, campuran dari berbagai Negara tapi masih gak campuran laki-laki dan perempuan. Aku membuka pintu yang ternyata gak terkunci. Masuk ke ruangan 4x4 meter dengan 2 tempat tidur susun dan 4 lemari kecil dan meja kecil. Aku mendengar seseorang di kamar mandi. Aku duduk melepas sepatuku dan mulai bergelung di kasur.
          “Hey, are you my room mate?”tanya seseorang dengan rambut pirang basah yang baru aja keluar dari kamar mandi.
          “Yup, I’m Riana from Indonesia”aku bangun dan memperkenalkan diri.
          “I’m Hailey from Australia”ucap cewek itu, ramah.
          Hailey berumur 21 tahun. Punya badan bak model Burbery dan senyum menawan. Rambut pirangnya bagus dan rapi. Yah, gak kayak aku cewek dengan kulit coklat ala Asia dan kuntet kalau dibanding Hailey. Dia udah 3 hari nginep disini. Bedanya sama aku, dia kesini tanpa restu orang tuanya. Menjadi backpacker ke Inggris buat melupakan mantannya yang ninggalin dia buat pacaran sama sahabat Hailey.
          “Boys are sucks”ucapnya. Aku hanya mengangguk.
          “How old are you Riana?”tanyanya sambil mengepang rambut pirangnya.
          “18 years old”ucapku. “Like my sister. I miss her so much”ucap Hailey sambil merapikan kepangnya.
          Aku mulai membereskan bajuku ke lemari kecil di sebelah tempat tidurku. Aku juga memesan makanan hotel. Terlalu capek buat jalan keluar cari makan. Jam 7 malam aku udah memejamkan mata sedangkan Hailey katanya mau ke pub.
          Aku bangun pagi-pagi. Dengan iler masih membekas di samping bibir, aku berjalan ke kamar mandi. Hailey masih belum pulang dari tadi malem. To do list buat hari ini adalah Big Ben, Buckingham Palace,Wetmister Abbey dan makan. Aku segera mandi. Sekeluar dari kamar mandi, aku mengobrak-abrik lemariku. It’s summer. Jadi, aku memilih atasan kaos putih Joger yang masih agak kebesaran dan celana knee short warna biru. Aku memasukkan semua keperluan ke dalem tas selempang I LOVE BALI ku. Mulai dari passport,dompet,peta,kacamata item,cardigan (kalau tiba-tiba dingin),pocket camera, gadget dan sebotol air minum. Aku mengambil beanie warna Navy blue  di rak kedua. “I’m ready for today”gumamku. Aku keluar dari kamar ketika Hailey datang dalam keadaan setangah mabuk. “Where are you going?”tanyanya. “I’ll explore London”ucapku sangat berseri-seri buat trip  hari ini. Now, I’m in London. So whatever if I exteremly happy. “Okay, be carefull sweetheart”ucap Hailey sambil mencubit pipiku. Hailey masuk ke kamar dan menguncinya.
          Matahari udah ada di atas kepala. Tapi, dari tadi keringetku cuma sedikit yang menetes. London emang aneh, musim panas disini gak begitu panas beda sama Indonesia yang musim panasnya tiap tahun. Waktunya untuk makan siang. Aku berjalan menuju sebuah restoran yang setauku udah berlisensi halal. Dari kejauhan, plang nama restoran itu udah kelihatan. Nando’s.
          Aku masuk ke dalamnya. Ramai tapi gak sumpek. Restoran ini semacan McDonalds, menyediakan ayam juga tapi disini namanya Peri-Peri Chicken yang pedes dan bahagianya disini ada nasi. Aku memesan 1 porsi Peri-Peri Chicken with salad dan segelas coke. Aku duduk di bagian pojok restoran. Aku siap memakan makananku sebelum aku sadar gak ada sendok di sini. Aku bergegas meninggalkan mejaku dan berjalan cepat ke arah kasir. “Kenapa waktu laper gini harus gak ada sendok?”batinku. Aku mengantri sebentar sebelum mendapat sebuah sendok.
          “Thanks”ucapku ketika pelayan memberiku sendok. Aku memutar badanku cepat dan Bruk.. Seseorang menabrakku dan menumpahkan senampan makanan dan membuat kaos putihku penuh saos.          
          “God!”ucapku agak keras secara spontan. Seluruh restoran memandang ke arahku.
          “Ugh.. I’m so sorry”ucap seorang cowok yang menabrakku. Dia bergegas ke kasir dan meminta serbet. Dia berusaha membersihkan noda di bajuku.
          “Let me clean up this by myself”ucapku sambil memintal serbet dari tangan cowok itu. Dia memberikan serbet itu.
          “I’m so sorry. I don’t watch my step”ucapnya penuh penyesalan dengan logat British-nya.
          “No problem”aku mendongakkan kepalaku untuk melihat cowok itu. Seketika mataku bertemu mata cowok itu yang berwarna hijau pudar yang membuat detak jantungku gak beraturan. Cowok itu berambut coklat ikal yang rapi, entah berapa jam dia menata rambutnya. Dia memakai kaos hitam dibalut denim shirt sebagai luaran, jeans hitam dan Converse putih.
          “Thanks for the napkin”ucapku sambil berjalan menuju tempat dudukku. First day in London and I’ve meet most nyebai guy.
          Aku menikmati makan siangku kali ini. Berusaha melupakan kejadian tadi.
          “Can I sit here,girl?”ucap sebuah suara yang kayaknya aku tahu. Berat dan serak dengan sedikit nada merayu.
          Aku mendongak. That’s guy. Cowok itu menujukkan muka kaget juga.“Kenapa dia lagi sih?”gumamku. “Pardon?”tanyanya. Aku menggeleng, “Nope”.
          Cowok itu duduk di depanku, menaruh nampannya yang berisi makanan baru. “It’s not polite when you talk with someone with your own language”ceramahnya.
          “I don’t talk with you”ucapku ketus. “So, who is you talk with?”tanyanya sambil menyeringai. “Um..um.. with my self”ucapku tergagap. Dia tertawa. Aku merengut.
          Dia memakan salad-nya. Dan, aku melanjutkan makan tertundaku. Sesekali, aku melirik cowok itu. “Kayak pernah tahu ya?”batinku. “Tapi siapa?”pikirku.
          “I think I’ve see you before.  I’m Riana and..”ucapanku terputus ketika serombongan cewek masuk dan menyerang meja tempatku duduk.
          “Harry! Can I take a picture with you?”pinta seorang cewek seumuranku ke cowok di depanku itu. “Harry?”pikirku berusaha mengingat siapa cowok ini. Dan aku sadar, “He’s Harry Styles!”teriakku dalam hati.
          Serombongan cewek itu meninggalkanku dan seorang.. Harry Styles!!
          “Hello Riana, I’m Harry”dia memperkenalkan diri dengan senyumnya yang pantes aja bikin semua cewek di seluruh dunia bisa jantungan.
          Aku masih bengong. “I go to London for holiday but wow I can believe it”gumamku. Harry tertawa, “So, do you forgive me about the accident?”tanyanya. “No, until you buy me some food”ucapku sambil tertawa. “Okay, I will”kata Harry menyanggupi. “Eh.. No! I’m just kidding”ucapku. Harry tersenyum. Duh, senyumnya! “Istighfar Ri!”aku membatin.
          “I will take you back home. Don’t refuse it”paksa Harry. Aku cuma bisa mengangguk.
          Mobil Range Rover warna hitam milik Harry melaju di jalanan London yang lumayan padat. Bus-bus bertingkat warna merah yang cuma aku lihat di tumblr-tumblr berlalu lalang. Suasana masih awkward. “Awkward!!”teriak Harry sambil menyetir. Aku dan dia tertawa.
          “Where are you come from?”tanyanya.”Indonesia”jawabku. Aku menceritakan diriku,apa tujuanku dateng kesini dan segalanya yang mungkin bisa aku ceritain. Dari mulai keluargaku,temen,Indonesia dll.
          “I’m sorry. Aku terlalu cerewet ya?”ucapku ketika melihat Harry cuma diem aja sambil tertawa atau tersenyum. “No.. Girls always talk much but I enjoy it”ucapnya. Aku menarik nafas. “Kamu gak kerja apa hari ini?”tanyaku. Harry menggeleng, “Break for 3 months. It’s summer. Everyone needs take a rest”. Aku hanya menjawab dengan “O”panjang.
          Radio menyiarkan lagu-lagu hits. Ketika sebuah lagu dari One Direction yang Little Things mengudara. “It’s my favorite song in 1D album”ucap Harry sambil menyanyi kecil. “Me too. It’s like all of the members sing for me hahaha”ucapku. “Bagian mana yang kamu suka?”tanya Harry. “Umm.. Niall’s part”ucapku agak lama karena bingung milih yang mana. “But actually I like all of the part”lanjutku. Harry tersenyum, “Girl who don’t choose Niall to be her boyfriend is girl who don’t know choose the right boy”ucap Harry. “How about you? What do you think about yourself?”aku bertanya ke Harry yang mengeraskan volume radio. Kami sedang terjebak macet. “Um.. Handsome,curly,flirty,cute,funny,playboy. Hahahha Girls always describe me like that”jawab Harry sambil tertawa.
          Harry mulai bercerita tentang dirinya,The Boys dll. Perlahan mobil ini berjalan di tengah macet. “What’s your favorite song?”tanya Harry. Aku berpikir sejenak, “I think Heart Attack from Demi Lovato”ucapku. “Why you like the song?”tanya Harry sambil memasukkan permen karet ke mulutnya dan menyodorkannya ke arahku. “Because if I fall in love with someone I always feel numb and paralyzed”terangku sambil mengunyah permen karet rasa mint  ini.
          “Do you have a boyfriend?”tanya Harry dengan nada agak ragu.
          “Actually, I never date someone until now”ucapku sambil menyeringai.
          “Really? A cute girl like you never date someone? They have blind eyes”ucap Harry langsung diikuti tawa ngakakku.
          “Aku gak kayak kamu Harry. You almost perfect and have a lot fans, you can choose one of them”jelasku.
          Harry tertawa kecil, “I have a lot fans but if I can I will choose you”
          Deg! Jantungku serasa berhenti. Aku berusaha menarik nafas. Pernyataan Harry bikin aku tambah deg-degan. “Cepet bilang Just kidding biar aku gak GR”harapku dalam hati.
          “Are you okay, Riana?”tanya Harry sedikit khawatir sampai-sampai memberhentikan mobilnya ke pinggir jalan.
          “I’m okay”ucapku lirih. Harry melepas seat belt-nya dan mengambil sebotol air mineral di belakang dan memberikannya ke aku.
          “Thanks”ucapku. Aku menengguk air itu. Wajah Harry terlalu dekat. Tangannya merapikan anak rambutku. Duh! Harry kembali memasang seat belt-nya dan menyetir lagi. Aku menarik nafas lega.
          Kami sampai di dorm. “You stay in here?”tanya Harry. Aku mengangguk. Harry lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untukku.
          “Um.. Thanks for take me back”ucapku. “Urwell, Aku rasa emang seharusnya. soalnya aku udah bikin kamu so messy. Let’s take bath and sleep, pretty girl”suruhnya.
          “Hahahaha.. Okay, sir. Good night”aku membalikkan diri untuk masuk ke dalam dorm.
          “Riana, Wait!”Harry memanggilku dan berlari ke arahku.
          “What?”tanyaku. Dia mengeluarkan IPhone-nya. “Do you have any contact?”pintanya sambil menyeringai. Aku memberikan nomor telpon,e-mail,twitter.
          “Thanks, By the way I have one request. Do you want come to my dinner party tomorrow?”pintanya lagi. Aku berpikir sejenak, “I think I can’t”ucapku.
          Wajah bersinar Harry melesu, “Pleasee, for me”pintanya lagi dengan menunjukkan wajah puppy eyes.
          “Okay, but don’t show me that puppy eyes again”jawabku menyetujuinya. Harry tertawa, “I’ll pick you at 7. Bye. Good night”Harry mencubit pipiku dan berjalan menuju mobilnya.
          “Hailey, wake up!”aku mengoncang tubuh Hailey yang masih bergumul dengan selimutnya. Jam udah menunjukkan pukul 1 siang dan Hailey masih belum bangun dari tidurnya. “What the hell is your problem?”Hailey menutup telinganya dengan bantal. “Please, wake up. I need your help”pintaku sambil terus mengguncang bahu Hailey. “Okay, I wake up now”Hailey bangun dan duduk. Matanya sipit dengan rambut pirang yang acak-acakkan mungkin dia baru pulang jam 3 pagi.
          “Give me a reason why I must help you”ucap Hailey dengan muka malas.
          “Okay, I’m sorry if I woke you up. I think I can share my problem with you”ucapku. Hailey mangut-mangut. Aku mulai menceritakan pertemuanku dengan Harry sampai ajakkan Harry untuk makan malam ke Hailey. Tapi, aku gak menyebutkan kalau orang itu adalah Harry Styles.
          Mata Hailey membelalak. “Kamu baru 1 hari disini udah dapet a british boy”komentar Hailey.
          “Dan karena itu, I need your help. Aku bingung harus pakai baju apa”jelasku ke Hailey yang sedang mengucir rambutnya.
          “Okay, first. Sebutkan baju terbaikmu yang kamu bawa kesini”ucap Hailey. Sekarang mimik mukanya mengatakan bahwa dia tertarik buat bantu aku.
          Aku mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari kecilku. Hailey memperhatikan semuanya satu per satu. “I think you don’t interest at fashion”komentarnya sambil mengangkat sebuah baju Bali yang warna-warni. Aku cuma bisa nyengir dengernya.
          “How about this? I think it’s nice and simple”ucap Hailey sambil menunjukkan sebuah collar chambray dan blue short pants. Aku berpikir sejenak.
          “It’s looks better than another clothes”ucap Hailey sambil tersenyum. “And now, sepatu apa aja yang kamu bawa?”lanjutnya. Aku menunjuk ke arah sneaker Nike-ku, “Just that sneakers and this”. Hailey melirik ke sandal jepit yang aku pakai. Sandal jepit yang aku beli di pinggiran Malioboro.
          “Kamu harus beli. Gak usah yang mahal, just in secondhand store”suruh Hailey. Aku bergegas mengambi dompetku dan pergi ke secondhand store.
          Aku kembali ke dorm dengan membawa sekotak sepatu baru. Hailey sedang membaca majalah Vogue waktu aku sampai. Aku mengeluarkan sepasang flat shoes warna biru langit. “Shoes, checked. And now, you must take a bath and I will make  you up”suruh Hailey lagi.
          Aku duduk di sebuah kursi menghadap cermin kecil Hailey. Aku cuma bisa diem waktu Hailey beraksi. Tangan Hailey beraksi lincah di wajah dan rambutku. Tangannya bak tangan Ibu Peri yang bisa mengubah labu jelek jadi kereta kencana.
          “Huft.. Finally, it’s done. And you look so pretty”komentar Hailey sambil terduduk di pinggir kasur. Aku menghadap ke cermin kecil Hailey. Wajahku diberi riasan tipis hanya foundation, bedak dan lipgloss untuk melembabkan bibir. Rambutku di bentuk buns yang dibuat agak gak rapi. “Is it me?”tanyaku yang gak percaya liat pantulan di cermin itu. Hailey tertawa, “Of course, it’s you swettie. Now change your clothes it’s almost 7 o’clock”
          Aku sudah siap dengan pakaianku. “Nah, You look fabulous now. Um.. I lend you my handbag. You can’t go dating with your backpack”ucap Hailey sambil tertawa. Aku memeluk Hailey, “Thank you so much, Hailey. You look like my big sis”ucapku. “Urwell, Okay let’s go now. Your prince charming waiting for you”ucapnya sambil membenarkan tatanan rambutku. Aku mengangguk, “Bye Hailey”. “Bye, Riana. Take a care”ucapnya seraya aku meninggalkan kamar.
          Mobil Range Rover Sporty warna hitam itu masuk ke halaman dorm. Seorang laki-laki dengan rambut ikal yang di pushed back keluar dari mobil.
          “Hey, Riana! Wow, you look fabulous”puji Harry ketika dia menghampiriku.
          “Hey, Harry! Thanks and you look cool”aku balik memuji. Sebenernya, he’s truly cool. Dengan kaos putih tipis yang dibalut blazer warna hitam. Jeans warna hitam dan vintage shoes warna coklat bikin semua orang yang lihat tambah meleleh.
          “Ready, little princess?”tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Aku mengangguk sambil menyambut tangan Harry.
          Mobil Harry melaju pelan di jalanan London yang penuh gemerlap lampu. Harry terus mengutarakan jokes-jokes-nya. Terkadang dia menyanyi kecil waktu Radio memutarkan lagu-lagu hits.
          “Kalau boleh komentar, kamu selalu bisa buat cewek terpesona sama kamu ya”komentarku. Harry tertawa kecil, “Incluiding you, huh?”. “Ha? Me.. Umm..”aku tergagap. Harry makin tertawa keras. “A girl who don’t like you it’s girl who have blind eye”ucapku akhirnya. “So, do you start like me?”tanya Harry yang kini enggak lagi ketawa tapi tersenyum manis yang membuat jantung serasa copot. Aku masih terdiam. “Say something please. Don’t be so awkward”protes Harry. “Um.. If I start like you. Would you start like me?”tanyaku ragu. “Actually, I did it”ucap Harry tegas dan tanpa keraguan. Aku masih tercengang. Harry melirik ke arahku, tangan kirinya memegang tangan kananku, “I’m sorry if I make you shock”. Aku menggeleng, “No. You’re not”
          Mobil Harry berhenti di sebuah restoran Italia dengan nuansa yang kekeluargaan. “They waited for us”ucap Harry sambil menggandeng tanganku. Di dalam di sebuah meja besar berbentuk lingkaran di pojok resto, 4 cowok dan 3 cewek duduk. “Hey, guys!”sapa Harry. “I’m sorry, we late”lanjutnya. “No problem, Hazza. So, she’s girl that you told me last night”ucap Liam. Harry mengangguk, “Okay, it’s Riana. She’s backpacker from Indonesia”Harry memperkenalkan aku ke semua orang. “Hey, Riana!”sapa semuanya dengan ramah. Harry lalu mempersilahkanku duduk. “Thanks”ujarku. Harry tersenyum. Aku duduk diantara Niall dan Harry.
          Makanan demi makanan tersaji. Mulai dari pasta,salad sampai gelato. Semua udah siap untuk pulang. Zayn sama Perry katanya mau jalan berdua dulu. Louis mau nganterin Eleanor dulu. Liam sama Danielle katanya mau beli makanan anjing buat anjing mereka, Loki. Tinggal aku,Harry dan Niall.
          “Harry, can I back home with you?”pinta Niall. Harry melengos dan melihat ke arahku untuk meminta pendapat. Aku mengangguk.
          “Okay, But you will give me some food in your home”ucap Harry. Niall mendengus kesal. “Or I’ll not accompany you,Horan”ancam Harry. “Okay okay”Niall mengangkat tangannya, menyerah akan ancaman Harry.
          Niall membuka pintu flat-nya. Flat yang amat sangat rapi buat cowok kayak Niall yang super sibuk. Aku dan Harry duduk di sofa. Niall datang sambil membawa semangkuk besar popcorn dan a bunch coke cans.
          “Um.. How about if we watch movie?”ajak Niall. “I have a new movie. You will like it”lanjutnya sambil mengubrak-abrik rak berisi DVD.
          “This”ucap Niall sambil memperlihatkan sebuah DVD berjudul ‘Sinister’.
          “Is that scary movie?”tanyaku. “It’s not scary as it seems”ucap Niall.
          Aku melirik Harry, “Okay, we can watch now”ucap Harry sambil membuka sekaleng coke dan memberikannya untukku.
          “If you afraid, you can hug me”bisik Harry. Aku memukul lemah bahu Harry. Harry tertawa sambil mengacak-acak rambutku.
          Film pun mulai. Sepanjang film, aku cuma memeluk lututku sambil terkadang menutup mata dengan bantal.
          “Where you going?”tanya Harry ketika aku mau ke kamar mandi. “I need go to toilet”ucapku. Niall menengok. “Riana be carefull, I saw something in there”ucap Niall dengan wajah mistis. “Damn you, Niall!!”ucapku sambil melemparkan bantal sofa yang ada di sebelahku. Harry dan Niall tertawa. “Mau aku temenin?”tanya Harry. Aku menggeleng.
          “Why you are so fast? Are you run?”tanya Niall setibanya aku di ruang TV. Aku hanya nyengir. Aku menikmati lagi film itu. Sesekali aku berteriak di dalam bungkaman bantal. Tangan besar Harry senantiasa menggenggam erat tanganku. Kepalanya begitu dekat dengan kepalaku hingga aku bisa merasakan nafasnya.
          Film selesai. Harry mengajakku pulang sebelum Niall memintaku untuk melanjutkan menonton ‘Grease’. “I’ve watch the movie a hundred times”ucapnya yang diikuti seruan Niall yang protes.
          “So, is it fun?”tanya Harry sesampainya di dorm. Aku mengangguk,”Thanks for this night”. Harry tersenyum lebar. Aku turun dari mobil. “So, good night Hazza”ucapku. “Good night, Riana”balasnya. Kami berdiri canggung, saling menunduk. Ada sesuatu diantara kami yang ingin kami utarakan satu sama lain tapi terlalu bingung gimana menyampaikannya. “Um Harry”. “Riana..”. Aku dan Harry berbicara berbarengan. Kami saling memandang, remang malam di halaman dorm enggak bikin aku nggak bisa lihat mata hijau Harry. Mata itu menatap mataku, memberikan ketenangan dan ketulusan. “You first”ucapku. Harry menarik nafas,
          “About something that I told you in car…”
          Aku mulai menahan nafas.
          “It’s really true not fake or bullshit. I was met you in 24 hours but I felt so comfortable when I’m beside you. I knew its too fast but I just want you to know. That’s it. Kamu gak harus menjawab apa-apa”
          Pipiku memerah,ototku menegang, aku merasa ada kupu-kupu di perutku. I feel so numb.
          “Riana? Are you okay?”tanya Harry penuh khawatir. Aku menyadarkan diriku dan tersenyum. “I’m really okay. And about that, I felt same with you”ucapku.
          Harry tersenyum dan mencubit pipiku. “Thanks little princess”ucapnya sambil mencium keningku. “Good night. By the way, Tomorrow aku mau ikut kamu jalan-jalan, boleh?”pintanya. Aku mengangguk, “Of course, Pick me at 7 in the morning. Don’t be late”. Harry mengangguk, “Okay, Bye”. Harry masuk ke mobilnya membunyikan klakson sekali dan meninggalkanku yang tengah melambaikan tangan dengan penuh rasa campur aduk.
          Aku menutup pintu kamar masih dengan senyum lebar terkembang. “How’s your night, Riana?”tanya Hailey yang sedang duduk menghadap cermin. Pakaiannya rapi, sebuah maroon mini dress. “One of my best night, ever”ucapku. “And where will you go?”tanyaku. Hailey menoleh ke arahku yang duduk melepas flat shoes-ku. “Um… I got a date with a boy”ucap Hailey dengan wajah bersinar. Knock..Knock. Aku membuka pintu kamar, seorang cowok berdiri dengan kemeja dan jeans. “Is it Hailey room’s?”tanya cowok itu. Aku mengangguk. “Hey, Dylan”sapa Hailey yang berdiri di sampingku. “Riana, I’ll go. Good night. Bye”pamit Hailey. “Okay, take a care Hailey”balasku.
          Pagi ini, aku sudah bersiap di lobby dorm. Duduk sambil membaca Koran pagi. Sebuah mobil sedan two seat merk Audi berhenti di halaman. Seorang cowok dengan hoodie,jeans dan T-shirt lambang Rolling stones warna hitam keluar.
          “Hey, petitĂ© girl”sapa Harry sambil mengacak rambutku yang dikucir ponytail.
          “Hey, curly boy”balasku.
          Aku dan Harry masuk ke mobil. “Shall we go now?”tanya Harry. Aku mengangguk.
          “Where will we go? I don’t have any idea”ucapku.
          “Actually, I have a practice with band. Do you mind if we go there? Just a hour”pinta Harry.
          “Okay, it’s sounds really fun”jawabku. Harry tersenyum dan membelai rambutku.
          “You can sit in here. I’ll be right back”suruh Harry. Aku duduk di sofa berwarna coklat yang menghadap ke tempat The Boys latihan. Harry duduk di salah satu kursi sedang berbicara dengan Louis.
          “Hey, Riana”sapa Zayn yang baru datang. “Hai, Zayn”balasku. Zayn duduk di sebelahku membenarkan tali sepatunya.
          “I think Harry really like you. He’s say that to me last night. FYI, He’s really cute and can treat girl right. It’s not like he seems”terang Zayn. “You’re lucky girl”lanjut Zayn sambil menepuk bahuku dan berjalan menuju yang lain.
          Aku berpikir sejenak. Tentang omongan Zayn dan Liam. Tentang perasaan Harry dan omongannya semalam. Harry bukan orang yang sekadar ganteng dan mengandalkan ketenarannya. Dia tipe seorang cowok yang karismatik dan sayang keluarga.
          “Hey, what do you think about?”suara Louis mengagetkanku. “Nothing”jawabku sambil tersenyum. Louis memberiku sebotol air mineral. “Thinking about your feeling to Harry, huh?”tanyanya seakan bisa membaca pikiranku. “He is not a playboy like everyone said. I think you’re so perfect for Harry even I’ve met you unless 24 hour. But I believe it. So, don’t be lie with your heart”lanjutnya sambil tersenyum. Louis meninggalkanku menuju arah member 1D lainnya.
          “How’s your practice?”tanyaku ketika Harry menghampiriku setelah selesai menyanyikan lagu terakhir di latihan ini, Little Things. Harry melemparkan dirinya ke sofa, “Fun because you’re here”godanya. Aku tertawa, “Stop, tease me Hazza”protesku. Harry tertawa,”Apa komentarmu buat penampilan tadi?”.
          “It’s really awesome. I really felt all of you sing for me”jawabku sambil menengok untuk melihat wajahnya.
          “Actually, I sang for you”ucap Harry sambil menatap mataku. “Oh.. it’s almost afternoon. Shall we go before the park is so crowd?”ajak Harry sambil menggandeng tanganku.
          “Bye,guys”pamitku ke Louis,Liam,Zayn dan Niall.
          “Kamu mau ngajak aku kemana?”tanyaku di mobil. Harry tersenyum misterius, “Aku mau ngajak kamu ke tempat favoritku”.
          Mobil Harry melaju di jalanan London. Mobil berhenti sebuah parkiran di dekat taman. Hyde Park. Taman besar di tengah London. Aku dan Harry keluar dari mobil. Harry menggandeng tanganku. “Do you want ice cream?”tawarnya. Aku mengangguk. “What’s your favorite flavor?”tanyanya. “Chococips and oreo, please”pintaku. Harry menggandengku berjalan ke arah ice cream van.
          “It’s for you”ucap Harry sambil menyerahkan sebuah ice cream cone rasa chococips and oreo sedangkan Harry memilih Chocolate and blueberry.
          Aku dan Harry berjalan memasuki taman. Berjalan di jalan setapak taman di bawah rimbun pohon. “Why do you like this park?”tanyaku sambil menjilat bagian ice cream-ku. “Disini sejuk, sepi dan damai. It’s make me always think positive. Aku biasa tiduran di atas rumput, thinking about life,universe and I everything that make me wondering”jelas Harry. Aku berhenti, memandang mata Harry. “I love you”ucapku, spontan. Entah apa yang aku pikirin kenapa bisa ngelakuin itu. Harry tersenyum, “I love you too”. Kami berdua tersenyum

          “Look at sky. It’s seems like rabbit”ucap Harry sambil menunjuk ke langit. Aku melihat ke atas. “And look! It’s seems like you with your curly hair”ucapku sambil menunjuk awan yang berbentuk seperti Harry. Harry bangun dari tiduran di rumput, menggelitik pinggangku. Spontan aku ketawa ngakak, “Stop it! Or I will punch your face”ancamku. Harry berhenti, “I don’t want you punch my face. It makes my handsome face disappear”. Aku tertawa.
          “Riana, what will you do in 10 years after now?”tanya Harry,tiba-tiba. Aku berpikir sejenak.
          “Maybe, I graduate from University,Get a job,Marriage,Have a child and Live happy after”ucapku. “And you?”tanyaku balik sambil melihat wajah Harry. Harry mengendikkan bahu, “I don’t know”. Aku berpikir sejenak. Aku mengambil sebuah notes dan menyobek 2 lembar kertas juga mengeluarkan bolpen.
          “Tulis 5 keinginanmu. Gak boleh lebih atau kurang”pintaku ke Harry sambil memberikan selembar kertas dan bolpen. Harry mengambilnya dan mulai berpikir.
          “Finish?”tanyaku. Harry mengangguk. “Save it”suruhku. Aku mengambil bolpen dari Harry dan menulis 5 keinginanku.
          “Now, read it”ucapku. Harry mulai membaca dari nomor 5.
          “Fifth,Buy a new house and car”
          “You can”komentarku.
          “Fourth, I want to be succesfull”
          “You did it now. You’re famous”komentarku.
          “Third, Always with my bestfriend in 1D”
          Aku tersenyum.
          “Second, makes my parents really proud of me”
          “I think they proud of you, now”ucapku.
          “And first, Marry with my little girl and have a happy life with my family”ucapnya sambil menutup kertas dan melihatku. “An the little girl is you”tambahnya. Aku tersenyum, mungkin sekarang pipiku semerah apel.
          “Now, read yours”suruhnya. “Okay..”aku menarik nafas.
          “Fifth, I want graduate from University that I wanted”
          “You will, you’re smart girl”ucapnya.
          “Fourth, Dapetin pekerjaan dimana aku bisa menolong orang lain”
          Harry tersenyum, “Best dream I’ve ever heard”
          “Third, Buy a new house and a car for my parent”
          Harry tersenyum sambil mengangguk-angguk.
          “Second, make my parent proud of me. Because I always make them so worry and angry”
          “You can do it, sweetie”
          “First, With my real man in Juliet’s house when I’m 22 and now I’m 18 so it’s 4 years from now”aku menutup kertasku. “The last is my dream since I met you”
          “What’s date your birthday?”tanya Harry. “29th July”jawabku. “I’ll be wait you in Verona when you’re 22”ucapnya. “Really?”aku meminta kepastian.
          “Pinky promise”ucap Harry sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
          “Pinky promise”aku menautkan jari kelingkingku dengan milik Harry.
          Aku membereskan pakaianku ke dalam tas besarku. Malam ini, malam terakhir di Inggris. Besok sore, aku balik ke Indonesia. Rasanya berat meninggalkan sekian banyak kenangan dan teman disini.
          “Are you gonna leave tomorrow?”tanya Hailey yang baru keluar dari kamar mandi. Dia duduk di pinggiran kasurku.
          Aku mengangguk. “Oh God, I’ll miss you so much. You like my little sister”ucap Hailey sambil memelukku. Ada setetes air mata di pelupuk mata birunya. Aku memeluk Hailey balik, “Thanks for everything, for your help, Hailey”ucapku. “Never mind, honey”ucap Hailey lalu melepas pelukannya.
          “Apa kamu udah bilang sama cowok itu kamu bakal balik besok?”tanya Hailey. Aku menggeleng. “It’s better if you say now”sarannya.
          Aku bergegas mencari taksi menuju flat Harry. Flat Harry terletak di pinggir London, tempat para flat mewah.
          “Thanks sir”ucapku ke sopir Taxi ketika aku sampai di depan sebuah flat.
          Knock…Knock… “Yeah! Wait”sambut suara di dalam rumah. Pintu terbuka. Harry dengan rambut acak-acakan dan baju rumah keluar. “Riana, Come in”suruhnya. Aku masuk ke rumah, duduk di sofa biru di ruang TVnya. Harry datang sambil membawa 2 cangkir teh. “It’s Louis favorite tea, Yorkshire tea”ucapnya. Harry duduk di sebelahku. “What’s wrong? Why you look so sad?”tanyanya sambil membelas rambutku. “I will leave tomorrow”ucapku lirih berusaha Harry tidak mendengar. “Tomorrow you leave?”tanya Harry balik. Dia berusaha meminta keterangan. “Please stay, you can stay in my home”pintanya. Aku menggeleng lemah, “I can’t. I must go to school”. Harry melengos, “But please, just a week. I’m just met you in 5 days and you’ll leave?”
          “I’m so sorry, but I can’t stay”ucapku seraya menggengam tangannya. “I never forget you and I promise I never move on”janjiku sambil mengacungkan kelingkingku. Harry menautkan jari kelingkingnya. “Pingky promise”ucap kami berdua. Kali ini dia tersenyum, aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Mencium aroma parfum Harry untuk terakhir kalinya.
          “I promise. I’ll call you and write you an e-mail”ucapku. Harry mengantarku ke bandara. Dengan pakaian santai yaitu T-shirt  lengan pendek yang digulung warna biru, jeans dan Converse. “No, you just promise to won’t forget what we had it all,okay?”pintanya. Aku mengangguk, “I never forget”. Suara pengeras suara bandara berbunyi menyuruh penumpang buat masuk pesawat. Aku menatap mata hijau Harry, “See you next time, my curly”. Harry tersenyum, mencondongkan kepalanya dan aku tahu apa yang akan dia lakukan. Aku segera menempatkan jariku di bibirnya dan menggeleng. Akhirnya ia mendaratkan itu ke kening dan pipiku. “Take care, my Asian Princess”. Aku mengangguk, melambaikan tanganku hingga Harry tersembunyi di balik ribuan manusia di bandara.
          Happy Birthday To Me!! I’m 22 now and I’m in Verona, Italy.
          Pagi ini, aku berjalan menuju Casa Di Guiletta alias Rumah Juliet. Masih sebagai seorang backpacker tapi sekarang aku udah lulus kuliah dan kerja sesuai keinginanku. Number 5 and 4, checked.
          Masuk ke Casa Di Guiletta, aku disuguhi banyaknya tamu di sini. Para perempuan dari seluruh dunia berkumpul jadi satu di sini. Menulis surat yang berisi curahan hati mereka ke Juliet.
          Siang beranjak sore. Matahari musim panas lamat-lamat mulai berkurang panasnya. Para pengunjung sudah mulai sepi. Aku berjalan, memperhatikan deretan surat yang tertempel di dinding Casa Di Guiletta. Kembali ke memory 4 tahun lalu. Musim panas di London. Liburan pertama ke luar negeri yang paling berkesan.
          “Do you wait for someone?”tanya sebuah suara serak dan berat.Suara yang selalu aku ingat. Aku menoleh, seorang laki-laki berambut ikal berwajah manis tersenyum ke arahku. Wajahnya masih tetap sama tapi ada kedewasaan yang tumbuh seiring bertambahnya umur. Laki-laki itu menggunakan kaos coklat yang dipadu kemeja biru dan jeans. Sneakers kesukaannya masih ia pakai.
          “You!”ucapku masih kaget. Kaget bahwa ia tidak lupa akan janjinya. Sebuah Pinky promise 4 tahun lalu.
          “Me!”jawabnya sambil tertawa. “How are you?”tanyanya. “I’m amazing. You?”tanyaku balik. Dia tersenyum, “I’m really amazing”. Ada jeda panjang diantara kami. “So, I fulfill my promise”ucap Harry memecah kesunyian. “You did it”jawabku ada semacam perasaan amat senang ketika aku mengatakannya.
          “I have a special gift for you”ucap Harry. “Really?”tanyaku. Harry tersenyum. Ia berlutut di bawahku, “Do you still love me?”. Otomatis aku mengangguk, “Of course yes”. Harry mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, “Will you marry me?”. Pertanyaan Harry singkat, padat dan jelas. Aku tersenyum dan mengangguk. “Say something, please”pinta Harry. “Yeah, I will marry with you”jawabku akhirnya. Harry berdiri memelukku dan mencondongkan wajahnya mendekatiku. Aku menekan bibirnya dengan telunjuk dan menggeleng. Sebagai gantinya, aku mencium 3 jariku dan meletakkannya di bibir Harry.
          ‘No kisses until we get marriage”ucapku. Harry tertawa,”Okay, miss Styles”. Aku dan Harry tertawa bersama. Ia menautkan tangannya ke jari tanganku. Bersiap melindungiku ketika aku menjalani hidup baru bersamanya.       

Gimana? Maaf ya kalo maksa ceritanya. I'll be back with more better story. Makasih udah mau baca :))

Ciao.





         

JacksGap

Mungkin ada yang pernah denger atau tau nama JacksGap. Yup, He's Youtuber. JacksGap dengan nama asli Jack Harries. Cowok asal London (British men!!!) ini mulai aktif di Youtube tahun 2011. Jack enggak sendiri He has a twin. Namanya Finn Harries. Finn lebih tua 2 menit dibanding Jack. Mereka punya muka hampir sama persis tapi banyak yang bilang Finn lebih ganteng dari Jack._.Okay, as usually Youtuber itu  isinya nge-post coveran lagu atau nari atau baca puisi atau Harlem Shake-an. But, Jack is different. Dia nge-post tentang apa yang dia lakuin. Mulai dari nge-cover lagu, nge-lakuin hal aneh dll. Kayak slogannya, Five minutes in your life that you won't get back. Dia juga sering nge-jawab pertanyaan di Twitter lewat Video "Ask Jack"  atau kalo mau ngirim hadiah bisa kok. Mereka bakalan buka dan bisa diliat di Video "Twin Mail". Aku paling suka opening sound-nya "Twin Mail" :))

Jack lahir tanggal 13 Mei 1993. Ayahnya seorang Producer acara televisi dan Ibunya seorang Novelis. Sebenernya Jack sama Finn itu seorang artis. Membintangi acara komedi di salah satu channel di UK. Kalo mau lihat videonya bisa langsung liat di channelnya dengan keyword JacksGap.

Keuntungan yang bisa dapet selain bisa lihat British boys seganteng mereka, kita bisa belajar Bahasa Inggris dengan British slang secara gak langsung.

The Twin. Left, Finn. Right,Jack.
Silakan dipilih mau yang mana? :p
                                                   Finn's smile and Jack's reaction




Video dimana Jack bilang dia punya kembaran.



The twin went to New York.



"Twin Mail" Video

Finn here!! (Atau mungkin Jack)

Yang ekspresinya aneh itu Jack (Kayaknya ._.)

Skater boy, Jack

Twin's Journey


Say hi to Finn!!

Bagian dari Video baru Jack.
Say cheese!!

Check their site!
Jack's : - Tumblr : jacksgap.tumblr.com
            - Twitter : @JacksGap
Finn's : - Tumblr : finnharries.tumblr.com
            - Twitter : @FinnHarries

Cukup disini pos kali ini. Have great days, people! Ciao :))

Senin, 11 Maret 2013

Lol, It's Me And Them And Maybe You





































From Spring To Winter (Niall Love Story)


 Sekarang aku bakal nge-post tentang Niall Love story. Karena lumayan banyak pake Bahasa Inggris. Maaf-maaf aja ya kalo grammar sama vocabnya ancur soalnya Cuma mengandalakan kamus elektronik dan otak hehehhe :)) Hope you enjoy the story guys. Love you so much xoxo
          Mullingar,Ireland 2009 (Spring).
          Malam ini, aku duduk di sudut ruangan. Menikmati musik sendirian disaat yang lainnya berdansa bersama pasangannya di acara pesta dansa sekolah. Pesta dansa pertamaku dimana saat ini aku sendirian tanpa pasangan. Aku Riana, cewek Indonesia yang saat ini harus terpaksa tinggal di Irlandia. Mengikuti jejak Papaku yang harus kesini. Ditanganku segelas minuman dingin tinggal setengah. Aku memang dari tadi gak beranjak dari tempat dudukku. I felt like I’m a wallflower.  Hingga mataku bertemu mata biru itu. Mata milik seorang cowok blonde dengan muka unyu yang saat itu sedang berbicara dengan teman-temannya. Hatiku tersentak. Pandanganku kuedarkan ke penjuru ruangan lain. Hingga… aku melihat cowok itu datang ke arahku. Jantungku berdegup. Dan… cowok itu hanya mengambil minuman di meja sebelahku.Pffft… Aku menarik nafas panjang. “Hey!”sapa sebuah suara. Suara yang berasal dari sebelahku. Kupalingkan wajahku kesana. Lagi-lagi mataku dan mata biru itu bertemu. “Hey”jawabku. Cowok berambut pirang itu berjalan ke arahku. “Wanna dance?”ajaknya. Aku gugup, belum pernah aku nyoba yang namanya dansa, “No, thanks. I can’t dance hehehe”tolakku. Dia tersenyum. Senyum manis dengan gigi yang tidak rapi, “C’mon. Just try it!”paksanya. Aku menurut, dia memberikan tangannya. Aku meraihnya. Kami berjalan menuju lantai dansa.
          “What’s your name?”tanyanya.
          “I’m Riana. And you?”, dia melingkarkan tangannya ke pinggangku.
          “I’m Niall Horan. Just call me Niall. Um… I never see you before, What class are you?”,aku melingkarkan tanganku ke lehernya.
          “Actually, I’m a freshman. I’m class 10. How about you?”. Jarakku dan dia begitu dekat sampai-sampai aku bisa melihat kejernihan mata biru itu.
          “So,you’re my junior. I’m class 11”ucapnya.
          Aku dan Niall kembali diam. Diam-diam aku menghitung langkahku dan juga detak jantungku.
          “Ouch”ucapnya agak keras. Tanpa sengaja, aku menginjak kakinya.
          “Oh, sorry sorry. It’s my regret”ucapku merasa bersalah.
          “Hahahaha…No problem,  lets finish it and put the drinks, kay?”ucapnya sambil tertawa. Aku mengangguk kecil. Aku dan Niall meninggalkan lantai dansa. Dan… tangannya masih memegang tanganku. Kami menuju meja makanan.
          Aku mengambil banyak sekali makanan, mulai dari cake,crackers,sampai fruit salad. “Wow, are you hungry”tanya Niall. “Not yet, but it’s my portion hehehe”ucapku sambil memasukkan chocolate truffleku. “I love seeing girls when she eat. It’s so ridiculous hahhaha”ucapnya sambil tertawa. “Do you think I’m ridiculous?”tanyaku sambil cemberut. “Not really,Hey! don’t show me your duck face it’s make you more ridiculous hahahha”Niall makin tertawa. Aku melahap cracker terakhirku, “Do you like eat?”tanyaku ke Niall. Dia nyengir, “I’m not just like eat but I love eat”. “But, why you’re not eat now?”tanyaku lagi. Dia meminum cokenya, “I will show you”. Niall mengambil banyak sekali makanan, mungkin hidangan di meja itu hampir habis. Dia memakan semuanya tanpa sisa.
          “Are you full up?”tanyaku masih geli sendiri liat porsi makan Niall. Dia menggeleng kecil. Mulutnya penuh dengan crakers. Lucu.
          Pesta dansa sudah selesai, beberapa orang sudah mulai meninggalkan school hall  tapi ada juga yang masih tinggal disana . Aku berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi. “Hey Riana! What are you doing in there?”teriak Niall dari belakang. Dia berlari kecil ke arahku. “I’ll back to home. Why?”jawabku sambil membenarkan cardiganku. Malam ini lumayan dingin, angin musim semi menggerakkan daun-daun cemara membawa sisa-sisa udara musim dingin. Cardiganku gak bisa melepaskan rasa dingin itu. “Can I accompany you?”tanyanya. Aku mengangkat alisku memberi isyarat are you really?. “If you don’t mind”ucapnya lagi. Aku mengangguk.
          Aku menggesekkan-gesekkan tanganku berusaha menghalau rasa dingin masuk ke tubuhku. “You’re seem like you’re freeze. Are you okay?”tanya Niall. “I’m not sure. It’s so cold”ucapku sedikit gemetaran. Niall melepaskan jas hitamnya, “Wear it”. “How about you?”tanyaku sedikit tidak yakin. “I’m strong enough”ucapnya tegas. Niall mengapai tanganku, memegangnya dan memasukkannya ke saku celananya, “Is it more warm?”. Aku tersenyum dan mengangguk kecil.
          Taksi akhirnya datang. Suhu di taksi udah mulai menghangat karena penghangat udara. Jalanan Mullingar masih menunjukkan nyawanya. Mullingar masih bangun. Lampu kota yang temaram membawaku hanyut dengan rasa kantukku. Aku tertidur. “We arrived!”ucap Sopir Taksi. Aku terbangun dari tidurku. “Hey, sleeping girl!”ucap Niall. “Hey, Um… Thanks for accompany me.”ucapku, “And thanks for the coat”kataku sambil menyerahkan jas Niall. “Urwell”dia mengambil jasnya. Aku keluar dari taksi. Aku berjalan menuju rumahku. “Good night Riana. Nice to see you”ucap Niall dari dalam taksi. Aku berbalik, muka Niall terlihat dari kaca taksi yang terbuka setengah dengan senyuman besar di wajahnya. “Good Night Niall, Nice to see you too”aku menjawab sambil menyunggingkan senyum.
          Mullingar, 2009 (Summer)
          Beberapa bulan setelah pesta dansa musim semi itu, aku semakin dekat dengan Niall. Mulai dari makan siang bersama,jalan sore di sekitar pertokoan kota,atau hanya sekadar duduk berdua di taman kota. Mungkin kalian pikir kami menjalani suatu hubungan. Bukan, kami hanya dua cucu Hawa dan Adam yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya saat itu. Kami terlalu takut untuk mencintai,memiliki ,dan ini yang kami paling kami takuti yaitu kehilangan. Semua orang tau aku menyukai Niall begitu juga Niall juga menyukaiku. Tapi, kembali ke alasan tadi kami terlalu takut kehilangan.
          Musim panas di Mullingar adalah suatu saat yang paling indah. Semua orang berkumpul di taman kota menikmati sun bathing yang jarang mereka nikmati. Anak-anak kecil bermain di sekitar air mancur atau memakan es krim mereka.
          “Riana, I’m so confused about our relationship”ucap Niall tiba-tiba. Hari ini aku dan dia sedang menikmati hari cerah musim panas. Duduk di sudut coffee shop .Menikmati liburan sekolah yang panjang.
          ‘I knew that you like me and I like you too. But, Are we just friend or more?”lanjutnya. Dia meminum ice lattenya. Aku menelan ludah, ini pertanyaan yang selalu aku ingin tanyakan kepada Niall tapi selalu aku tahan. Dan hari ini, dia mungkin sudah kehabisan kuota untuk menahannya.
          Aku menarik napas panjang, “But, you never asked me to be yours”. Niall diam, ia menyenderkan kepalanya ke sofa cafĂ©. Aku mengendarkan pandanganku keluar. Melihat beberapa pasangan berjalan sambil tertawa lebar, itu hal yang sama seperti aku dan Niall lakukan. Dan sekarang, kami berdua gak tau apa hubungan yang kami jalani ini.
          Niall berdiri,berjalan ke arahku lalu menunduk di hadapanku. “What are you doing Nialler?”tanyaku ke Niall. Niall tersenyum, “You said that I never asked you to be mine. Now, I will ask you”ucapnya. Dia meraih tanganku, “Will you be mine?”. Aku tersentak, dia membuktikkannya. “Yes!”ucapku. Dia mencium tanganku pelan.
          “Now, I know what in relationship we are”ucapnya. Dia memberikan senyum manisnya, “I love you”. Aku membalas senyum lebar itu, “I love you too”.
          Mullingar, 2010 (Spring)
       Setahun sejak pertemuanku dan Niall dan beberapa bulan setelah kami memutuskan menjalani hubungan ini. Hari ini, dia mengajakku ke tempat makan favorit kami, Nando’s. Selama makan aku melihat raut muka Niall yang sepertinya penuh keraguan, gak seperti biasanya yang lahap saat makan dan selalu tertawa. Kali ini dia makan dengan pelan dan gak habis!!. Aneh, pasti ada apa-apanya ini kalau dia makan sampai gak habis. Apa dia sakit? Atau ada masalah? Aku masih memperhatikan Niall dengan pandangan  what’s wrong?.
          “What?”tanyanya saat melihatku memperhatikannya, “Why you looked me like that?” Lanjutnya. Aku tersenyum samar.
          “What’s wrong Niall? Tell me if you have problem”ucapku. Dia mengelap mulutnya dengan tisu, “Huffft… You can read my mind”. Aku tersenyum kecil. Dia tersenyum kecut,”Riana, I’m gonna join X-Factor UK Audition. I’m gonna reach my dreams”ucapnya. “Let’s join these audition. I’m support you”ucapku sambil memegang lembut tangannya. Aku tahu dia punya bakat menyanyi and I knew his dream is become to singer.
          “But, I’m afraid”ucapnya lagi. Bibirnya bergetar. Aku meremas lembut tangannya, “Afraid for what?”. Dia meletakkan tangannya di atas tanganku.
          “I’m afraid if I fail and I’m afraid if I lose you”ucapnya lagi. Kini dia hampir menangis. “No! Don’t say that. You never know if you never try Nialler”ucapku menguatkannya. “And I’ll be here, waiting you to win X-Factor. Reach your dream!”lanjutku. Dia tersenyum, “Tomorrow I will go to UK”ucapnya. Secepat itukah? Pikirku. Besok dia harus berangkat dan aku harus sendiri. Tapi, ini demi mimpi Niall bukan? Aku harus mendukungnya,membiarkan dia pergi ke UK untuk meraih mimpinya.
          Pagi ini, matahari dengan sinarnya mengawali hariku. Hariku yang akan sedikit hampa tanpa Niall. Ku lihat Greg, kakak Niall sedang mengeluarkan mobil. “Hi Riana!”sapa Mr.Horan yang sedang sibuk mengeluarkan beberapa tas. “Hi sir!”sapaku balik. Niall keluar dari rumah, memelukku hangat dengan senyumannya. “Hey! Are you ready?”tanyaku. Dia mengacungkan kedua jempolnya, “I’m ready!!”ucapnya keras. Aku tertawa, tingkah Niall memang sedikit seperti anak kecil. Polos dan lugu. Dan itu yang menyebabkanku menyukainya. “I will miss you so much Riana”ucapnya. Raut mukanya berubah sedih. “I will miss you so much too. Don’t be sad Niall, I’m gonna be okay”ucapku. Dia merangkulku,mencium jidatku pelan dan membelai rambutku. “I love you so much”bisiknya. “I love you more Niall”ucapku.
          “Niall!! We have to go now”teriak mrs. Horan.
          “Wait a minute, Mom!”teriak Niall.  “Let’s go Niall, you can leave the plane”ucapku ke Niall.
          Dia memandangku dengan mata biru itu, “Good bye Riana”
          Aku menatap mata biru itu, “Good bye Niall. Write an e-mail or letter and call me sometimes if you can,okay?”ucapku. Dia mengangguk. Tangan putih itu melepaskan pegangannya, sedikit terpaksa. Berjalan sedikit kuyu menuju mobil. “C’mon Niall!!! Show your spirit!!”teriakku. Dia berbalik dan tersenyum lebar. Aku tersenyum melihat Niall memasuki mobilnya. Mobil sedan itu berjalan pelan, kulambaikan tanganku. Hariku tanpa Niall dimulai.
          Mobile Phoneku berbunyi, sebuah SMS masuk. ‘Nialler’ sms dari Niall!! Kubuka pesan itu,
Riana, I have a good news for you!! I did it. Now, I’m X-Factor finalist. Next Saturday, it will publicate. Love you so much xoxo J
          Aku menangis, membayangkan bagaimana seorang Irish Boy seperti Niall akan menjadi penyanyi hebat. Aku berharap dia tidak akan terhenti begitu saja.
Hey Niall!! OMG, You did it! Congrats! I always pray for you. I hope you always strive for your best and pray to God. Love you so much xoxo Good luck J
          It’s Saturday night, aku sudah stay tune di depan TV. Menunggu seorang yang dari tadi aku tunggu. Hingga… It’s Niall Horan! Niall dengan sedikit gugup masuk ke panggung menggunakan kemeja merah kotak-kotak. (Liat video ya)

          Once more, a waterfall turns from my eyes.
          Mullingar, 2010 (Fall)
          Tepat setahun ketika kalimat itu muncul dari Niall. Aku duduk di pojok Nando’s melihat keluar jendela menikmati gugurnya daun pohon ek yang menguning. Sesekali terdengar bisikkan pelayan Nando’s, “That’s girl  always came here with Niall Horan”. Mobile Phoneku berbunyi, sebuah pesan dari seseorang yang aku sudah tahu siapa.
Happy 1ST Anniversary to Us. I wish it will forever. I always love you xoxo J
          Sebuah pesan pendek dari Niall. Kututup pesan itu tanpa ada hasrat ingin membalasnya. Kutatap secarik kertas yang sedari tadi ada di depanku. Kutulis semua rasa yang kupendam beberapa bulan ini.
          “Hi Greg!!”sapaku ke Greg ketika aku bertemu dengannya di grocery. “Hey Riana”ucapnya ramah. “Greg, can you give this to Niall”ucapku sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasku. “Okay, maybe tomorrow I’m gonna to UK”ucap Greg sambil mengambil kotak itu dan memasukkanya ke tas. “Thanks”ucapku lagi. “Urwell”jawabnya. Greg berjalan menjauh menuju kasir. Sedangkan aku masih terdiam.
**Niall P.O.V**
          Today it’s my first show with One Direction. Yeah, now I’m with Zayn,Louis,Liam ,and Harry. We founder by Simon Cowell. We called this band ‘One Direction’ because we have same dream, to be professional singer. Now, I’m so confused why Riana don’t reply my messages and e-mail since our 1st anniversary. Is she sick or what?
          “Hey Niall!!”said my brother, Greg. I rolled my eyes to him. He brought a box. “This from Riana”. Why she gave me a box?
“What is that?”I said to Greg.
“I don’t know. Good luck for your performance brotha”, Greg leaving me.
I open the box. I feel something wrong with Riana when I opened the box. There is some our photos and a LETTER!! I see the photos. Photos when me and Riana go to Dublin together,when we swam at waterpark and when we were just sat under tree. These memories, I miss them and her. I open the letter carefully. Riana wrote it so neat and I can see some tears printed. I start read.
Dear Niall,
Long time not see you. I miss you more than I can felt. How are you?  I hope you’re pretty cool there. I’m a bit pretty amazing in here. I think you will be superstar. I always heard about you and your new band ‘One Direction’ talked by girl in Mullingar hehehe. You’re famous now. Ouch, You have some greetings by Nando’s waiters. They always asked me “When you will come to Nando’s again?”
Dear Niall,
I miss our memories. I miss your wide grin. I always miss your face when you’re ate. I miss all of you. Sorry, I’m not replied your messages. It’s my regret.
Dear Niall,
I know it’s hurt to do long distance relationship. But, I always felt empty when you’re not here. And sometimes, I felt we will break up. I know it’s hurt for you. But, I feel this too. It’s my decision. I know it’s so selfish
Dear Niall,
Sorry for hurting your heart. You know what, actually I still loved you. And, it’s not just bullshit. I’m just not enjoyed this long distance relationship. It’s doesn’t mean we are gonna stay away each other after breaked up. I always pretend that you’re my boy best friend.
Dear Niall,
I gave you some our photos, to make you always remember me. I keeps some our photos too and one of our best photos in my wallet. Good luck for you concert and your band, I always pray for your best. I’ll be wait for your victory, Okay?
Sincerely,
Your girl best friend

(Riana)
My tears turn from eyes. She wants a break up. I know she’s not enjoyed this, I can feel it.
“Are you crying Niall?”Liam said to me. Now, he sit next to me. “Are you break up with your girlfriend?”he continous.
“I think so”I said clearly.
Now, the show must go on. I don’t want my performance will be bad. I’m gonna show to Riana, I can be a singer with this band. I promise Riana, I will give you a victory.—
London, 2012 (Winter)
Aku berjalan di sepanjang trotoar pertokoan di London. Ini musim dingin pertamaku sejak aku pindah dari Mullingar. Aku pindah kesini karena kau harus melanjutkan kuliah di London.
Salju turun menutupi jalanan aspal dengan mobil-mobil yang berjalan pelan karena jalan licin. Aku memasuki salah satu mall di situ. Aku ingin menghangatkan tubuhku sejenak. Kulihat banyak sebuah advertisement di lobby mall.
Aku kaget, Niall kini sudah berubah. Dia berubah secara stylenya, tapi aku masih bisa melihat kepolosannya. One Direction kini menjadi suatu british invention di seluruh dunia. Semua orang tahu One Direction dan juga Niall. Selama ini, aku hanya melihat Niall di majalah,koran,atau televisi. Yeah, he’s changed.
Aku masuk ke toko music,niatku kali ini ingin membeli album One Direction kedua-duanya. Aku ingin mengenang Niall lewat album ini. Aku masih ingat, saat dia menyanyikan lagu Justin Bieber yang ‘One Less Lonely Girl’ dengan gitarnya di suatu siang di musim panas.
Aku mendatangi hall mall yang biasanya begitu luas kini seakan menjadi kumpulan ikan pindang. Semuanya menggunakan atribut tentang 1D. Aku seakan kecil diantara ribuan directioners , mereka tertawa,bernyanyi dan ketika the boys mereka berteriak sepuas mereka.
3 jam…2 jam… dan kini hanya sekitar 5 orang lagi di depanku untuk ke tempat the boys. Langkahku sedikit gontai,jantungku berdegup kencang. Orang masa lalu itu akan kembali lagi,masih ingatkah Niall kepadaku?
Yang pertama Louis, dengan pakaian stripes kesukaannya dia tersenyum ramah kepadaku, “Thank you for coming”. Dia memberikan dua album yang sudah ditanda tangani. Lalu Liam, Zayn,dan Harry. Aku harus menunggu lumayan lama untuk Niall. Dia pergi sebentar ke belakang panggung.
“Sorry for waiting me, I’m really need go to pee”ucap Niall sambil menanda tangani 2 album itu. “No problem,Glad to see you again Niall”ucapku. Dia mendongak memberikan 2 album yang sudah dia tanda tangani.
“Oh God, Riana?”ucapnya saat dia melihatku. Aku mengangguk. Dia masih ingat aku. Dia tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang kini sudah rapi terbehel.
“Niall, hurry up”bisik Harry ke Niall.
“Can I beg your CD’s?”ucap Niall. Aku menyerahkan salah satu CDku. Dia menuliskan sesuatu disana.
“Thanks for coming Riana”ucap Niall sambil sekali lagi tersenyum lebar. Aku berjalan menjauhi kerumunan. Kubuka CD yang tadi ditulisin Niall.
Hi Riana!! Can you meet me at Starbuck now. I’ll be there after signing session. I want talk much with you :))
Aku duduk di pojokkan Starbuck menunggu Niall yang belum juga datang. Hot Latteku sekarang sudah habis. Hingga… seseorang memakai kacamata hitam dan juga hoodie biru datang ke arahku. Dia membuka kacamatanya, “I need some disguise hahha”ucapnya. Niall duduk di seberang,membuka buku menu dan memanggil pelayan. “Wanna latte again?”tanyanya. “Up to you”ucapku. Dia memesan 2 hot latte dan 2 red velvet.
“You still love latte,huh?”ucapnya. Aku tersenyum, “Like you can see”
Pelayan datang membawakan pesanan kami, dia menyeruput sedikit lattenya.
“How’s your life?”tanyaku sambil memasukkan sesendok red velvet.
“It’s so pretty amazing. How about you?”
“Same. Now, I live in here”. Niall sedikit kaget, “In London?”.
“Yeah, I am go to University of London”.
“Wow, congrats!! How about your love life?”tanyanya lagi.
“Always being single hahahaha”ucapku sambil tertawa kecil. “After we breaked up you never dating someone again,huh?”tanyanya lagi sedikit tak percaya. Aku mengangguk. Suasana menjadi awkward.
Niall mengantarku pulang ke flatku setelah acara pertemuan kami di Strabuck yang berlanjut makan malam di Nando’s. Menggunakan mobil barunya ia mengantarkanku,dulu aku masih ingat dia selalu menggunakan taksi untuk mengantarku pulang. Tapi dulu ya dulu but now everything has changed,right? Aku keluar dari mobilnya, dia mengantarku sampai ke depan pintu flat. “Thanks for the dinner”ucapku. Dia tersenyum, senyum yang sama saat dia masih seorang Niall si Irish Boy. “Urwell”ucapnya, “I have to go now. Good night”lanjutnya. “Good night”balasku. Niall berjalan menuju mobilnya.
‘Wait Riana!!”ucapnya keras saat aku membuka pintu flatku. Aku menoleh,”Ya?”
Dia sedikit berlari ke arahku, “Do you want to join a dinner with 1D tomorrow?”. Aku memasang wajah ragu. “Pleaseeee”pintanya seperti anak 5 tahun yang ingin es krim. Aku mengangguk sambil tertawa. “Big thankies Riana.”ucapnya. “You never change Niall”ucapku masih sedikit tertawa. Dia ikut tertawa,” I will pick you at 6 pm,kay?” Dia sekali lagi berpamitan. Tapi baru 3 langkah dia berbalik lagi, “Can I have your new phone number?”pintanya lagi. “Okay”jawabku sambil memberikan nomor telponku.
Jam sudah menunjukkan pukul 5.45 pm. Aku sudah bersiap dengan pakaianku yang seperti biasanya selalu simple. Toktok. “Wait a minute”ucapku sambil menali sepatu converseku. Niall datang membawa sebuket bunga mawar merah. “It’s for you”ucapnya. Aku mengambilnya, “Thanks Nialler. You more romantic now hahahaha”ucapku. Dia mengedipkan matanya. Aku makin tertawa lebar.
“You never change Riana. Your fashion and your personality”ucapnya di mobil. “You too but maybe your fashion a bit changed”jawabku. Mobil berjalan melewati jalanan kota London yang ramai karena sebentar lagi Natal. “Are you gonna back to Mullingar this Christmas?”tanyaku. “Of course yes, I miss Mullingar”ucapnya bersemangat.
Kami sampai di restoran tempat dinner. Kami memasuki restaurant itu, dan Niall menagandeng erat tanganku. “Hey Nialler. There is so much food in here”ucap Harry keras. “Nialler coming!!”ucapnya sambil menggeret tanganku. “Who’s that girl, your new girlfriend, huh?”tanya Zayn. Niall tertawa, “Actually, she’s my ex girlfriend but now she’s my best friend”ucap Niall. “You had girlfriend before?”ucap Harry sedikit gak percaya. Niall memasang muka ganas ke Harry. “What’s wrong?”Harry malah tanya balik.
          Niall menceritakan semuanya tentang aku dan dia ke the boys. “It’s really teenage love”ucap Liam. Kami berdua tersenyum. Jam 10 pm dia mengantarku pulang. “Thanks for dinner and accompany me”ucapku. “Urwell, and thank you for you too”ucapnya. “Thanks for what?”tanyaku sedikit bingung. “Thanks for back to in my heart”ucapnya sambil tersenyum. Aku tersenyum malu. Musim dingin pertama di London serasa musim panas 3 tahun lalu.
          Mullingar,2012 (Winter)
Pernak-pernik natal tersebar di semua sudut Mullingar. Aku kembali kesini. Menemani Niall yang rindu akan tanah kelahirannya. Sekarang, kami duduk di café biasanya ketika dulu kami masih bersama. Dan sekarang, kami bersatu lagi. Tapi buka berati kami pacaran ya. Kami sudah mengungkapkannya, bukan dari mulut ke mulut tapi dari hati ke hati. Hati kami yang berbicara. Sekarang kami sudah siap akan semuanya,mencintai,memiliki dan kehilangan. Karena kami sudah cukup dewasa. Dan sekarang, dia menatapku dengan mata biru itu dengan senyum itu dan dengan rasa itu.

Udah bacanya? Kalo udah komen-komen aja ya. Thanks for read ;))

         


Rabu, 20 Februari 2013

A Week In Pressure


A Week In Pressure
          Berminggu-minggu yang lalu mungkin 2 minggu yang lalu rasanya hoam banget-_- Penuh tekanan apalagi dari sekolah.  My brain it’s like volcano eruption. Dimulai dari hari senin, aku sakit terus gak sekolah. Sebenernya lumayan asik sih gak sekolah lha kan lumayan, libur dari aktivitas rutin itu hehehe :B Hari Selasa, lumayan asik ya walaupun sedikit gak asik sama pelajarannya. Next day, ini nih asal mula “kehoaman” ini. Pelajaran pertama biologi. Gak tau kenapa akhir-akhir ini males banget sama ini pelajaran. Mungkin akibat dari tugas nggambar menggambar yang sangat “Arghhh” -_- Untungnya hari itu cuma ngulang materi. Pelajaran selanjutnya sih aman-aman aja. Waktu matematika aku disuruh nyelesein nggambar segitiga (Lagi-lagi nggambar). Untungnya aku dibantuin temen-temenku yang kece abis :* jadi bisa selesai dengan lebih baik hehehe. Hari Kamis lumayan enak. Pulang cepet jam 12-an jadi aku pulangnya naik jalur 3A lewat Malioboro sekalian refreshing. Tapi, malemnya kepala rasanya mau njeblug kaya gas 3kg lha harus belajar biologi sama fisika untuk ulangan untung fisika babnya sedikit. Belum lagi ngerjain tugas nggambar biologi sel sama tumbuhan-_- Karena aku gak bisa  (dan gak suka) nggambar ya udah sebisanya mboh karepe lah -_- The Next day, Jumat. Hari yang paling gak ditunggu. Rasanya itu O.G.I.F alias Oh God It’s Friday -_- Pengen tak skip gitu lho ini hari. Tapi karena aku gak bisa nyekip hari ya udah tak jalani aja. Belom wawancara untuk tugas Bahasa Indonesia di SO 1 Maret yang hari itu juga. Rasanya pengen selak Setu terus turu. Pulang sekolah, udah siap-siap ini ke SO 1 bareng kelompoknya Sukma naik Pajero alias Kopata Jalur Loro. Nyampe sana eh acaranya gak ada -_-t tanya-tanya ke ibu-ibu karcis Vredeburg sama Pak Satpam eh ternyata emang gak ada event apa-apa. Sungguh malang nasib kami. Akhirnya kelompokku sama Sukma sepakat ke POPS Market aja mboh piye carane. Si Alif inisiatif nelpon taksi eh kok ya taksinya pada penuh, untung ada taksi lewat. Walaupun taksinya Avanza tapi kita berenam sampe desel-deselan. Nisya aja dipangku Sukma._. yang gak desel-deselan itu yang Mbak Nur lha wong dia duduk di depan. Di dalem taksi, kita itu gak berhenti ketawa-ketawa sampe-sampe mungkin Pak Taksinya gilo sama kita hehehe :B Sampe di POPS Market ketemu kelompoknya Muti yang udah duluan nyampe dan kita mencar cari berita masing-masing.Malemnya, aku nggembel di Bandara nunggu Pakdhe. Berangkat dari rumah Budhe jam setengah 8, katanya pesawatnya jam 7 take off dari Soetta jadi kira-kira nyampe jam 8-an. Eh, ditunggu-tunggu ternyata delay-_- Delaynya itu jadi jam 9-an wola suwi banget. Aku yang gak betah sama kelaparan minta Bapak beliin Roti’O sejenis Roti Boy gitu (Yang gak tau ndeso :p) ternyata malah dibeliin Budhe (Budheku emang the best budhe kok :*) Karena Budheku orang dalem jadi aku bisa masuk ke pintu Kedatangan nyampe hampir landasan padahal gak boleh. Coba kalo Budhe bawa kartu pass wah aku bisa masuk sampe mana-mana hehehe (Sombong kali saya) Akhirnya Pakdhe datang bawa tas ransel gedhe yang isinya bukan baju tapi duku 3 plastik item gede-_- Hari berikutnya, Sabtu!! Hari yang paling asik minggu ini soalnya gak ada tugas wkwkwk. Ya, walaupun pelajarannya agak flat yang penting besoknya kan libur :p Bonusnya, waktu aku pulang sama Asha naik bis aku ketemu sama dia lho :3 (If you know what I mean) The best day in this week lah pokoknya hari Sabtu ini. Hari terakhir di minggu ini, Minggu! Hari yang paling tak tunggu dan gak ,lha soalnya Minggu kan libur eh besoknya udah Senin aja. Apalagi aku ditinggal jagong sama Bapak Ibuku._. kelaparan jadinya padahal aku udah makan bubur ayam dll emang dasarnya perut belalang kupu-kupu kalo siang makan nasi kalo malam minum susu jadi selama belum makan nasi meskipun itu bubur ya tetep aja laper hehehe. Sakjane aku yo agak nggragas kok :D
Pelajaran yang bisa kita dapet : It’s just a bad week not bad life. Just enjoy your life with smile,have fun,friends,family and a bit mischiveous :)) Stay cool, kay?